Artemis 2: Sel Manusia Bergabung dengan Astronot di Orbit Bulan

14

Misi Artemis 2 NASA yang akan datang bukan hanya mengirim empat astronot mengelilingi bulan; ini juga tentang membawa versi miniatur yang dikembangkan di laboratorium selama perjalanan. Eksperimen yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, yang diberi nama AVATAR (A Virtual Astronaut Tissue Analog Response), akan memperlihatkan sampel jaringan yang cocok dengan kru yang terkena radiasi luar angkasa dan kondisi tanpa bobot yang sama dengan para astronot itu sendiri. Tujuannya? Untuk memahami bagaimana sel-sel hidup manusia bereaksi terhadap kenyataan pahit perjalanan ruang angkasa – sebuah langkah penting menuju misi yang lebih lama dan lebih ambisius.

Muatan Biologis

Bersama komandan Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, akan menerbangkan sampel yang diambil dari sel masing-masing anggota awak. “Avatar” ini – ditempatkan dalam chip seukuran jempol – terutama akan berfokus pada sumsum tulang, komponen kunci dari sistem kekebalan tubuh. Para ilmuwan akan mengambil darah sebelum peluncuran (saat ini dijadwalkan pada tanggal 6 Maret), mengolah sel, dan memaparkannya pada kondisi yang sama seperti para astronot selama penerbangan 10 hari. Ini bukan hanya sekedar akademis; data tersebut dapat secara langsung menginformasikan protokol kesehatan astronot di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Misi Artemis 2 menandai penerbangan berawak pertama di luar orbit rendah Bumi sejak program Apollo, dan yang pertama memprioritaskan penelitian biomedis pada tingkat ini. Pesawat ruang angkasa Orion akan melakukan perjalanan melampaui medan magnet pelindung Bumi, sehingga membuat astronot dan proxy seluler mereka terkena tingkat radiasi yang jauh lebih tinggi daripada yang ada di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Ini adalah kesempatan pembelajaran yang penting: perjalanan antarplanet menuntut pemahaman bagaimana memitigasi risiko-risiko ini.

Melacak Faktor Manusia

Selain eksperimen AVATAR, kru Artemis 2 akan berpartisipasi dalam serangkaian penelitian lain yang dirancang untuk memantau kesehatan mereka secara real-time. Investigasi Immune Biomarkers akan melacak seberapa dalam ruang angkasa berdampak pada fungsi kekebalan tubuh, berdasarkan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa penerbangan luar angkasa melemahkan respons kekebalan dan dapat mengaktifkan kembali virus yang tidak aktif. Astronot akan mengumpulkan sampel air liur dengan menjilati potongan kertas yang sudah diolah, sebuah cara berteknologi rendah namun efektif untuk memantau biomarker kekebalan mengingat kurangnya pendingin di Orion.

Ruang Terbatas, Data Kompleks

Kapsul Orion yang sempit memaksa peneliti untuk beradaptasi. Studi Archer akan menggunakan pelacak yang dikenakan di pergelangan tangan (mirip dengan Fitbits) untuk memantau tidur, aktivitas, dan kinerja kognitif. Program Pengukuran Standar Penerbangan Luar Angkasa akan mengumpulkan darah, urin, dan air liur sebelum dan sesudah misi, bersamaan dengan tes keseimbangan, kekuatan, dan daya tahan. Para kru bahkan akan menyelesaikan simulasi perjalanan luar angkasa segera setelah mendarat untuk menilai pemulihan fisik mereka. Tes-tes ini penting: jika NASA berencana mengirim manusia ke Mars, mereka perlu mengetahui seberapa cepat astronot dapat pulih dari kondisi ekstrem.

Radiasi: Variabel Tidak Diketahui

Radiasi masih menjadi hambatan utama dalam perjalanan ruang angkasa jangka panjang. Tidak seperti orbit rendah Bumi, Artemis 2 akan menjelajah ke lingkungan yang lebih tidak bersahabat. Astronot akan membawa sensor radiasi pribadi, dan detektor yang dipasang di kabin akan melacak tingkat paparan. Chip AVATAR juga akan berperan, memungkinkan para ilmuwan menganalisis bagaimana aktivitas gen berubah dalam sel yang terpapar radiasi luar angkasa. Data ini dapat menghasilkan peralatan kesehatan yang dipersonalisasi yang dirancang untuk melindungi astronot dalam misi masa depan.

“Ini akan sangat penting untuk membangun pemahaman kita tentang tekanan Artemis II, tetapi juga untuk membangun kehadiran berkelanjutan di bulan dan akhirnya Mars,” kata Mark Clampin, wakil administrator asosiasi bidang sains NASA.

Misi Artemis 2 mewakili sebuah titik balik: penelitian biomedis bukan lagi sekedar renungan, namun menjadi tujuan inti. Data yang dikumpulkan dari para astronot dan rekan-rekan seluler mereka akan sangat penting untuk memastikan keselamatan dan keberhasilan eksplorasi ruang angkasa di masa depan.