Astronom Mendeteksi ‘Laser Luar Angkasa’ Pemecah Rekor dari Jarak 8 Miliar Tahun Cahaya

20

Para astronom telah mengidentifikasi “laser luar angkasa” alami terjauh dan terkuat yang pernah diamati, berasal dari tabrakan galaksi kolosal yang berjarak 8 miliar tahun cahaya dari Bumi. Fenomena ini, yang secara teknis merupakan gigamaser, memancarkan gelombang radio yang kuat melalui emisi radiasi yang terstimulasi, mirip dengan bagaimana laser memperkuat cahaya. Penemuan ini menyoroti kapasitas alam semesta terhadap peristiwa energi ekstrem dan potensi teleskop canggih seperti MeerKAT untuk mendeteksinya.

Sifat Gigamaser

Gigamaser bukanlah fiksi ilmiah; mereka adalah fenomena astrofisika yang terjadi secara alami. “Laser” ini muncul di wilayah di mana molekul—dalam hal ini, molekul hidroksil (OH)—berenergi dan memancarkan radiasi gelombang mikro pada panjang gelombang tertentu. Proses ini memerlukan molekul dan foton tereksitasi dengan kepadatan tinggi untuk memicu efek berjenjang, yang memperkuat emisi secara eksponensial.

Gigamaser khusus ini berasal dari tabrakan dua galaksi, menciptakan gaya gravitasi yang sangat besar yang memampatkan gas dan memicu pembentukan bintang yang dahsyat. Bintang-bintang yang baru lahir kemudian merangsang molekul hidroksil di sekitarnya, menghasilkan pancaran radiasi gelombang mikro yang diperkuat.

Jarak dan Kecerahan Pemecah Rekor

Gigamaser yang baru diidentifikasi, diberi nama HATLAS J142935.3–002836, telah memecahkan rekor sebelumnya untuk jarak dan kecerahan. Hal ini terlihat karena adanya pelensaan gravitasi, yang mana gravitasi galaksi di dekatnya membengkokkan dan memperkuat cahaya dari maser yang jauh.

Cahaya dari peristiwa ini telah menempuh jarak 7,82 miliar tahun cahaya untuk mencapai teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan, melampaui rekor sebelumnya yaitu 5 miliar tahun cahaya. Efek pelensaan membuatnya sangat terang, memungkinkan para astronom untuk mendeteksinya meskipun jaraknya sangat jauh.

Mengapa Ini Penting

Penemuan ini penting karena beberapa alasan. Pertama, hal ini menunjukkan kondisi ekstrem yang memungkinkan terbentuknya megamaser dan gigamaser—yakni penggabungan galaksi yang disertai kekerasan. Kedua, hal ini membuktikan keefektifan teleskop radio modern seperti MeerKAT dalam mendeteksi sinyal samar dari alam semesta awal.

“Kami melihat radio yang setara dengan laser di separuh alam semesta,” jelas Thato Manamela, ahli astrofisika di Universitas Pretoria. “Kombinasi kebetulan dari laser radio jarak jauh, lensa kosmik, dan teleskop yang kuat telah memungkinkan penemuan ini.”

Studi terhadap objek-objek tersebut dapat memberikan wawasan berharga tentang evolusi galaksi, pembentukan bintang, dan distribusi gas molekuler di awal alam semesta. Pengamatan ini akan membantu para astronom memahami bagaimana galaksi tumbuh dan berinteraksi seiring berjalannya waktu kosmik.

Penemuan gigamaser ini menegaskan kapasitas alam semesta dalam menghasilkan peristiwa energi yang menakjubkan dan menyoroti potensi astronomi radio untuk mengungkap lebih banyak rahasia kosmos.