Apakah ‘Lubang Hitam’ Pusat Galaksi Sebenarnya Materi Gelap?

18

Para ilmuwan mempertanyakan apakah Sagitarius A*, objek supermasif di jantung Bima Sakti kita, adalah lubang hitam. Sebuah model baru menunjukkan bahwa galaksi tersebut—dan pusat galaksi serupa—bisa jadi merupakan gumpalan materi gelap yang sangat padat, sebuah zat yang mendominasi alam semesta namun sebagian besar masih belum diketahui.

Misteri Materi Gelap

Materi gelap menyumbang sekitar 85% dari total materi di alam semesta, namun ia tidak berinteraksi dengan cahaya, sehingga tidak terlihat oleh pengamatan langsung. Kita mengetahui keberadaannya karena efek gravitasinya terhadap galaksi, namun sifat pastinya masih menjadi misteri. Meskipun materi gelap diketahui membentuk lingkaran cahaya besar di sekitar galaksi, apa yang terjadi di pusatnya masih belum jelas.

Hipotesis Inti Materi Gelap

Para peneliti di Universitas Nasional La Plata (UNLP) di Argentina membuat model menggunakan partikel sangat ringan yang disebut fermion untuk mensimulasikan inti galaksi yang terbuat dari materi gelap. Temuan mereka menunjukkan bahwa partikel-partikel ini dapat mengembun menjadi massa yang sangat padat sehingga, jika dilihat dari Bumi, akan tampak identik dengan lubang hitam supermasif.

“Secara teori, Anda dapat melewatinya tanpa cedera,” jelas Carlos Argüelles dari UNLP. “Tidak seperti lubang hitam, Anda tidak akan hancur atau hancur.”

Bukti dan Tantangan Observasional

Model ini selaras dengan orbit bintang yang diamati, pola rotasi galaksi, dan bahkan gambar tahun 2022 yang diambil oleh Event Horizon Telescope (EHT) menunjukkan cincin bercahaya di sekitar Sagitarius A*. Tim berpendapat bahwa cincin ini mungkin disebabkan oleh tarikan gravitasi inti materi gelap, bukan lubang hitam.

Namun, skeptisisme masih ada. Beberapa ilmuwan yakin buktinya masih mendukung lubang hitam tradisional, karena penjelasannya lebih sederhana. Selain itu, keakuratan model di dekat “cakrawala peristiwa” – titik dimana lubang hitam tidak bisa kembali lagi – masih belum pasti. Pola spiral medan magnet yang diamati di wilayah ini tampak lebih konsisten dengan sifat lubang hitam.

Keterbatasan dan Prospek Masa Depan

Tantangan lainnya adalah model tersebut memperkirakan massa maksimum sekitar 10 juta kali massa Matahari kita untuk gumpalan materi gelap tersebut. Ini berarti bahwa lubang hitam supermasif yang lebih besar, seperti yang ada di pusat galaksi M87, tidak dapat terbentuk dengan cara ini.

Saat ini, membedakan inti materi gelap dan lubang hitam berada di luar kemampuan teknologi kita. Bahkan teleskop generasi berikutnya mungkin tidak memberikan resolusi yang dibutuhkan. Pertanyaan ini mungkin masih belum terjawab selama beberapa dekade.

Jika Sagitarius A* memang terbuat dari materi gelap, hal ini akan merevolusi pemahaman kita tentang kosmologi. Jenis partikel fermion yang diperlukan untuk membentuk inti semacam itu tidak sesuai dengan model standar yang berlaku, sehingga menunjukkan bahwa teori kita saat ini tentang materi gelap mungkin memiliki kelemahan mendasar. Penemuan ini akan membentuk kembali pemahaman kita tentang lubang hitam dan alam semesta itu sendiri.

Pada akhirnya, meskipun kemungkinan tersebut masih menarik, bukti konklusif masih sulit diperoleh. Untuk saat ini, sifat objek di jantung galaksi kita masih menjadi salah satu misteri astronomi yang paling menarik.