Genom Badak Berbulu yang Diekstraksi dari Perut Serigala Purba Mengungkap Petunjuk Kepunahan

22

Para ilmuwan telah berhasil mengurutkan genom lengkap badak berbulu berusia 14.400 tahun menggunakan sepotong daging yang sangat diawetkan yang ditemukan di dalam perut anak anjing serigala purba. Prestasi paleogenomik yang belum pernah terjadi sebelumnya ini memberikan wawasan penting tentang cepatnya kepunahan raksasa Zaman Es ini, dan menunjukkan bahwa perubahan iklim adalah penyebab utamanya.

Sumber DNA Purba yang Tidak Mungkin

Jaringan badak berbulu (Coelodonta antiquitatis ) ditemukan dari sisa-sisa mumi anak anjing serigala yang ditemukan di permafrost Siberia pada tahun 2011. Pemeriksaan terhadap makanan terakhir anak anjing tersebut mengungkapkan bahwa ia telah memakan sisa-sisa salah satu badak berbulu terakhir yang hidup di bumi. Para peneliti kemudian mengekstraksi, mengurutkan, dan menganalisis genom lengkap badak dari jaringan otot yang dicerna sebagian.

“Ini adalah pertama kalinya genom lengkap ditemukan dari hewan punah yang ditemukan di dalam hewan lain,” jelas Camilo Chacón-Duque, ahli bioinformatika di Universitas Uppsala. Studi yang dipublikasikan di Genome Biology and Evolution ini merinci proses dan temuannya.

Stabilitas Genetik Hingga Penurunan Terakhir

Tim peneliti membandingkan genom yang baru diurutkan dengan genom yang diperoleh sebelumnya dari badak berbulu yang berumur 18.000 dan 49.000 tahun yang lalu. Mereka menemukan tingkat keragaman genetik dan perkawinan sedarah yang sangat konsisten di ketiga sampel. Hal ini menunjukkan bahwa populasi badak berbulu relatif stabil di timur laut Siberia hingga sesaat sebelum kepunahannya sekitar 14.000 tahun yang lalu. Implikasinya adalah bahwa spesies tersebut tidak mengalami penurunan secara perlahan karena perkawinan sedarah secara bertahap, namun justru mengalami kepunahan yang cepat setelah periode kelangsungan hidup yang berkepanjangan.

Perubahan Iklim, Bukan Perburuan, sebagai Faktor Kuncinya

Penelitian sebelumnya memperdebatkan apakah perburuan manusia atau perubahan iklim menyebabkan kepunahan mamalia besar seperti badak berbulu. Studi baru ini memperkuat hipotesis iklim. Badak berbulu ini bertahan selama 15.000 tahun bersama manusia purba di timur laut Siberia, yang menunjukkan bahwa tekanan perburuan bukanlah faktor penentu.

Rekan penulis studi, Love Dalén, menjelaskan: “Hasil kami menunjukkan bahwa pemanasan iklim, bukan perburuan manusia, yang menyebabkan kepunahan.” Temuan ini sejalan dengan periode pemanasan cepat yang dikenal sebagai interstadial Bølling-Allerød (14.700 hingga 12.900 tahun lalu). Pergeseran iklim yang dramatis ini kemungkinan besar menghilangkan vegetasi yang disukai badak, sehingga menyebabkan penurunan spesies secara cepat.

Implikasi untuk Penelitian Masa Depan

Keberhasilan penelitian ini menunjukkan potensi analisis DNA dari sumber yang tidak terduga. Para peneliti sekarang berharap untuk menerapkan teknik ini pada sampel lain yang terfragmentasi atau terdegradasi, sehingga membuka wawasan baru tentang masa lalu.

“Sangat sulit untuk mengekstraksi genom lengkap dari sampel yang tidak biasa, namun hal ini membuka kemungkinan untuk menganalisis DNA dari sumber lain yang tidak terduga,” kata Sólveig Guðjónsdóttir, peneliti di Universitas Stockholm.

Kemampuan untuk memulihkan informasi genetik dari hubungan predator-mangsa kuno memberikan alat baru yang ampuh untuk memahami dinamika kepunahan dan adaptasi dalam menghadapi perubahan lingkungan.