Menopause dan Otak: Wawasan Baru Dari Data Skala Besar

17
Menopause dan Otak: Wawasan Baru Dari Data Skala Besar

Menopause adalah transisi alami dalam kehidupan wanita, namun dampaknya jauh melampaui perubahan fisik. Semakin banyak bukti yang menghubungkan menopause dengan perubahan fungsi kognitif, kesehatan mental, dan bahkan perubahan struktural di dalam otak itu sendiri. Meskipun terapi penggantian hormon (HRT) adalah pengobatan umum untuk gejala terkait, dampaknya terhadap kesehatan otak jangka panjang masih belum jelas. Analisis data terbaru terhadap hampir 125.000 perempuan di Biobank Inggris memberikan pencerahan baru mengenai hubungan ini.

Perubahan Kesehatan Kognitif dan Mental Selama Menopause

Studi ini mengkategorikan peserta menjadi pengguna HRT pra-menopause, pasca-menopause, dan pasca-menopause. Temuan menunjukkan bahwa wanita setelah menopause secara signifikan lebih mungkin mengalami kecemasan, depresi, dan gangguan tidur dibandingkan dengan mereka yang masih pramenopause. Gejala-gejala ini sering kali menyebabkan peningkatan ketergantungan pada layanan kesehatan, termasuk resep antidepresan.

Mungkin yang lebih memprihatinkan adalah pemindaian otak menunjukkan adanya penurunan volume materi abu-abu setelah menopause. Penurunan ini terutama terlihat pada hipokampus dan korteks entorhinal — wilayah otak yang penting untuk memori dan pembelajaran — dan korteks cingulate anterior, yang mengatur pengaturan emosi dan perhatian. Area-area tersebut sering kali menjadi area pertama yang mengalami kerusakan akibat penyakit Alzheimer, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang potensi hubungan antara menopause dan peningkatan risiko demensia.

HRT: Apakah Ini Membantu atau Membahayakan?

Studi tersebut menguji apakah HRT memitigasi perubahan otak ini. Anehnya, HRT tidak mencegah pengurangan materi abu-abu. Selain itu, wanita yang menggunakan HRT melaporkan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi, meskipun para peneliti yakin hal ini mungkin mencerminkan masalah kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya dan bukan disebabkan oleh pengobatan itu sendiri.

Ada satu manfaat penting: HRT tampaknya menjaga kecepatan psikomotorik, sebuah fungsi kognitif yang secara alami menurun seiring bertambahnya usia. Wanita pascamenopause yang tidak pernah menggunakan HRT menunjukkan waktu reaksi yang lebih lambat dibandingkan mereka yang menggunakan hormon.

Namun, efektivitas HRT sangat bervariasi. Satu dari empat wanita yang menerima dosis tertinggi masih memiliki kadar estrogen di bawah optimal, yang berarti mereka mungkin tidak merasakan manfaat penuh dari pengobatan. Dosis optimal dan metode pemberian HRT masih belum pasti.

Gaya Hidup sebagai Faktor Pelindung

Mengingat kesenjangan dalam penelitian HRT, para ilmuwan juga mempertimbangkan intervensi gaya hidup. Penelitian menunjukkan bahwa olahraga teratur, aktivitas yang merangsang mental, pola makan seimbang, tidur yang cukup, dan hubungan sosial yang kuat dapat meningkatkan kesehatan otak dan fungsi kognitif. Misalnya, aktivitas fisik telah terbukti meningkatkan ukuran hipokampus, yang berpotensi melawan penyusutan otak terkait menopause. Demikian pula, tidur yang baik mendukung konsolidasi memori dan membersihkan racun berbahaya dari otak.

“Kebiasaan gaya hidup sehat dapat menawarkan strategi yang mudah diakses dan efektif untuk meningkatkan kesehatan otak, cadangan kognitif, dan ketahanan terhadap stres selama dan setelah transisi menopause.”

Pada akhirnya, meski gambaran lengkapnya masih belum lengkap, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya memahami dampak menopause pada otak. Penyelidikan lebih lanjut terhadap terapi hormonal dan intervensi gaya hidup sangat penting untuk mendukung kesejahteraan kognitif dan mental perempuan dalam jangka panjang.