NASA Menyelidiki Kerusakan Tak Terduga di Toilet Luar Angkasa Artemis 2

25

Misi Artemis 2 telah mencapai beberapa tonggak sejarah, termasuk menjadi misi berawak pertama yang menjelajah melampaui orbit Bumi. Namun, ketika kapsul Orion hampir kembali ke Bumi, para insinyur NASA memecahkan masalah teknis yang tidak terduga: kerusakan pada sistem pengelolaan limbah pesawat ruang angkasa.

Masalah: Evakuasi dan Bau

Meskipun toilet kapsul Orion—versi ringkas dari sistem yang digunakan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)—secara teknis masih beroperasi, toilet tersebut mengalami kesulitan dalam melakukan tugas penting: mengevakuasi urin yang disimpan ke luar angkasa.

Para kru telah melaporkan dua masalah utama:
1. Kegagalan Ventilasi: Sistem mengalami kesulitan mengalirkan air limbah melalui nosel luar.
2. Bau yang Tidak Dapat Dijelaskan: Para astronot telah merasakan “bau terbakar” yang tidak biasa yang berasal dari unit tersebut. Meskipun baunya menimbulkan kekhawatiran, Kontrol Misi mengindikasikan bahwa saat ini bau tersebut tidak menimbulkan risiko keselamatan bagi kru.

Dari Penyumbatan Es hingga Reaksi Kimia

Awalnya, para insinyur NASA menduga es mungkin menghalangi lubang ventilasi di bagian luar kapsul Orion. Untuk menguji teori ini, pengendali misi menyalakan pemanas di dalam pesawat dan memiringkan pesawat ruang angkasa ke arah matahari untuk mencairkan potensi penumpukan es. Ketika upaya ini gagal menyelesaikan masalah, tim beralih ke hipotesis baru.

Menurut Direktur Penerbangan Artemis 2 Rick Henfling, teori terkemuka saat ini melibatkan kimia kompleks dalam sistem air limbah.

“Teori terbaru ini terkait dengan beberapa bahan kimia yang digunakan untuk memastikan bahwa air limbah tidak mengembangkan biofilm apa pun,” jelas Henfling.

Ilmuwan NASA yakin reaksi kimia yang dimaksudkan untuk mencegah pertumbuhan bakteri (biofilm) mungkin menghasilkan puing-puing. Produk sampingan ini dapat menyumbat filter internal sistem, sehingga menghambat kelancaran evakuasi limbah.

Mengapa Ini Penting untuk Misi Bulan di Masa Depan

Kesalahan teknis ini menyoroti kesulitan besar dalam mengelola sistem pendukung kehidupan di luar angkasa. Pada misi Apollo, para astronot menggunakan tas genggam untuk menyimpan sampah; toilet Artemis 2 mewakili lompatan besar dalam teknologi yang dimaksudkan untuk mendukung masa tinggal di bulan dalam jangka waktu lama.

Jika masalahnya memang disebabkan oleh bahan kimia, hal ini menunjukkan bahwa cairan khusus yang digunakan untuk menjaga kebersihan toilet mungkin memiliki efek samping yang tidak terduga dalam gayaberat mikro. Memecahkan teka-teki ini sangat penting untuk keberhasilan misi Artemis di masa depan, yang membutuhkan sistem sanitasi yang lebih kuat dan andal untuk tempat tinggal jangka panjang di Bulan.

Jalan Menuju Solusi

Jawaban pasti masih sulit diperoleh saat pesawat ruang angkasa sedang terbang. Pejabat NASA, termasuk Lori Glaze dari Direktorat Misi Pengembangan Sistem Eksplorasi, telah menyatakan bahwa analisis “akar permasalahan” hanya dapat benar-benar dimulai setelah perangkat keras dapat diakses secara fisik.

Kapsul Orion, yang membawa astronot Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, dijadwalkan mendarat di lepas pantai San Diego pada Jumat malam, 10 April. Setelah kru sampai di rumah dengan selamat, para insinyur akan melakukan inspeksi langsung terhadap sistem untuk memastikan apakah memang benar adanya puing-puing kimia yang menjadi penyebabnya.


Kesimpulan: Meskipun toilet Artemis 2 berfungsi, penyumbatan pada sistem evakuasinya telah memaksa NASA untuk memikirkan kembali strategi pemeliharaannya. Inspeksi fisik kapsul Orion yang akan datang akan sangat penting dalam menentukan apakah reaksi kimia membahayakan keandalan teknologi sanitasi luar angkasa.