Neandertals’ Ancient Antibiotic: Birch Tar as a Stone Age Remedy

8

The same sticky substance Neandertals used to haft stone tools may have also been their go-to antibiotic. Sebuah studi baru yang diterbitkan di PLOS One menunjukkan bahwa tar birch, yang dihasilkan dari pembakaran kulit kayu birch, memiliki sifat antibakteri yang cukup kuat untuk melawan infeksi seperti Staphylococcus aureus. This raises the intriguing possibility that early hominids were unknowingly treating wounds with a primitive form of medicine.

### Birch Tar: Zat Bertujuan Ganda

Archaeologist Tjaark Siemssen of the University of Oxford points out that birch tar isn’t just a prehistoric adhesive. Kebudayaan modern—termasuk masyarakat adat Arktik dan Mi’kmaq di Kanada bagian timur—telah lama menggunakan ekstrak pohon birch sebagai pengobatan untuk melawan infeksi kulit, termasuk strain yang resistan terhadap obat seperti MRSA. These traditional remedies have been scientifically proven effective at killing harmful bacteria.

Penelitian Siemssen mengeksplorasi apakah Neandertal, yang secara aktif memproduksi tar birch untuk pembuatan perkakas, mungkin mendapat manfaat dari kualitas antiseptiknya. He argues that applying the tar to wounds is a logical extension of its known uses. Homo sapiens zaman dahulu telah memanfaatkan oker sebagai pengusir serangga, sehingga menunjukkan adanya potensi spesies lain untuk memiliki pengetahuan medis yang belum sempurna.

Prosesnya: Bisnis yang Lengket dan Berantakan

Creating birch tar requires a controlled burn under airtight conditions. Neandertals likely burned bark beneath a rock, collecting the condensed vapors as tar. Metode modern menggunakan kaleng untuk efisiensi, namun prosesnya tetap berantakan: “Tangan Anda menjadi sangat, sangat kotor. Hal ini terutama terjadi pada kulit Anda,” catat Siemssen. Crucially, the study found that all tar samples, regardless of production method, exhibited antibacterial properties.

### Tahukah Mereka? Perdebatan Berlanjut

If Neandertals mastered birch tar production, they might have intuitively recognized its healing potential. An accessible antiseptic would have been a significant survival advantage in a harsh environment. Bukti menunjukkan bahwa mereka juga menggunakan tanaman obat lain (yarrow, kamomil yang ditemukan di gigi), yang semakin mendukung gagasan bahwa pengobatan alami merupakan bagian integral dari kehidupan mereka.

Namun, beberapa arkeolog masih skeptis. Karen Hardy of the University of Glasgow argues that the presence of birch tar as an adhesive doesn’t automatically prove medicinal intent. Dia menekankan bahwa lingkungan Neandertal kaya dengan potensi antiseptik lainnya, sehingga sulit untuk menyimpulkan bahwa mereka secara khusus menggunakan tar birch untuk penyembuhan.

Perspektif yang Lebih Luas

Ultimately, the study underscores that Neandertals lived in a world from which they drew extensively—both technologically and medicinally. Whether intentional or accidental, the antibacterial properties of birch tar likely provided a benefit, even if they didn’t understand why. Implikasinya tidak hanya terbatas pada Neandertal; penelitian ini menyoroti bagaimana manusia purba mungkin menemukan obat-obatan yang efektif melalui kebutuhan praktis jauh sebelum munculnya layanan kesehatan formal.