Paradoks Koneksi: Mengapa Internet Membuat Kita Merasa Lebih Sendirian

14
Paradoks Koneksi: Mengapa Internet Membuat Kita Merasa Lebih Sendirian

Pengalaman berinternet modern diwarnai oleh kontradiksi yang aneh: konektivitas yang berlebihan dipadukan dengan kesepian yang mendalam dan meresap. Kita menghabiskan waktu berjam-jam menelusuri feed, mengonsumsi informasi yang tiada habisnya, dan berinteraksi dengan orang lain secara online, namun banyak yang melaporkan bahwa mereka merasa semakin terisolasi. Ini bukan suatu kebetulan; Hal ini merupakan konsekuensi dari bagaimana kebiasaan digital kita mencerminkan pola psikologis yang diamati beberapa dekade lalu.

Kepribadian “Diarahkan Orang Lain”.

Pada tahun 1950, sosiolog David Riesman, Nathan Glazer, dan Reuel Denney mengeksplorasi fenomena ini dalam buku mereka The Lonely Crowd. Mereka mengidentifikasi tipe kepribadian yang didorong oleh validasi eksternal, terus-menerus mencari persetujuan dari teman-teman dibandingkan nilai-nilai internal. Individu yang “terarah pada orang lain” ini menyesuaikan diri dengan tren, memprioritaskan kepemilikan, dan takut akan isolasi di atas segalanya. Dinamika ini terasa sangat relevan saat ini, karena algoritme media sosial dan chatbot AI dirancang untuk memanfaatkan kebutuhan kita akan koneksi.

Permasalahan utamanya adalah internet sering kali mensimulasikan komunitas dan merusak hubungan yang sebenarnya. Algoritme menyusun feed untuk memaksimalkan keterlibatan, bukan keaslian. Hal ini mengarah pada siklus di mana kita mencari validasi dari orang asing, salah mengira interaksi digital sebagai hubungan yang bermakna. Meningkatnya hubungan parasosial dengan influencer semakin memperkuat efek ini, memberikan ilusi keintiman tanpa kedalaman persahabatan sejati.

Ilusi Individualitas

Konsumerisme memperburuk masalah. Perusahaan menawarkan “personalisasi palsu”, memberikan pilihan tanpa akhir yang pada akhirnya memperkuat kesesuaian. Bayangkan menelusuri lusinan produk serupa di situs e-niaga – ilusi pilihan tidak mengubah fakta bahwa Anda masih membeli produk tren yang diproduksi secara massal. Prinsip yang sama juga berlaku pada algoritme online: platform mengklaim dapat memenuhi minat Anda, namun tujuan utamanya adalah agar Anda tetap berada dalam ekosistem mereka. Halaman “Untuk Anda” di TikTok atau feed serupa tidak dirancang untuk keuntungan Anda, namun untuk memaksimalkan waktu pemakaian perangkat Anda.

Hal ini mendorong kita untuk berpartisipasi dalam perilaku kelompok, didorong oleh pemasaran yang mendorong kita untuk “bergabung dalam percakapan.” Pesannya jelas: ekspresikan diri Anda dengan melakukan apa yang dilakukan orang lain. Hal ini memperkuat siklus mencari validasi eksternal alih-alih memupuk individualitas sejati.

Masalah Inti: Kehilangan Kontak Dengan Diri Sendiri

Akar dari kesepian ini bukan hanya kurangnya kehadiran fisik dalam hubungan; itu karena kami telah melakukan outsourcing untuk pembentukan identitas kami. Dengan terus-menerus menyelaraskan diri dengan ekspektasi eksternal, kita menekan hasrat sejati kita sendiri. Koneksi yang sejati membutuhkan kesadaran diri, namun dunia digital sering kali memprioritaskan kecocokan daripada menonjol.

Riesman dan rekan-rekannya mengusulkan solusi: memanfaatkan kembali waktu senggang dari hiperkonsumerisme dan bereksperimen dengan pengalaman baru. Ini berarti memutuskan hubungan dengan aliran rangsangan eksternal yang terus-menerus dan secara aktif mencari aktivitas yang sesuai dengan minat Anda sendiri, bukan aktivitas yang ditentukan oleh tren. Kuncinya adalah menemukan kembali apa yang benar-benar penting bagi Anda tanpa pengaruh tekanan teman atau manipulasi algoritmik.

Dunia digital dirancang untuk membuat kita tetap terhubung, namun untuk melepaskan diri memerlukan upaya sadar. Menjauhlah dari layar, jelajahi wilayah yang belum dipetakan, dan temukan kembali kegembiraan yang berantakan dan tak terduga karena menjadi diri sendiri yang autentik. Hanya dengan cara ini kita dapat membangun koneksi yang berakar pada ekspresi diri yang tulus, dan bukan pada gaung konformitas yang hampa.