Bahaya Dormansi: Mengapa Gunung Berapi yang ‘Punah’ Mungkin Lebih Aktif Dari Kelihatannya

13

Penelitian geologi baru menunjukkan bahwa diamnya gunung berapi tidak berarti gunung tersebut mati. Sebuah studi yang dipimpin oleh ahli vulkanologi di ETH Zurich mengungkapkan bahwa beberapa gunung berapi, yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai gunung berapi punah, mungkin sebenarnya mengumpulkan reservoir magma bawah tanah yang sangat besar selama periode tidak aktif yang lama.

Temuan ini menantang asumsi lama dalam bidang vulkanologi dan menunjukkan bahwa banyak gunung berapi yang “tidak aktif” bisa jadi jauh lebih berbahaya daripada prediksi model bahaya saat ini.

Paradoks Methana: Keheningan 100.000 Tahun

Untuk memahami fenomena ini, para peneliti fokus pada gunung berapi Metana di dekat Athena, Yunani. Dengan menganalisis sejarah geologi situs tersebut selama 700.000 tahun, tim menemukan kontradiksi yang mencolok: “mekarnya” kristal zirkon secara besar-besaran terjadi pada periode ketika gunung berapi tersebut tampak tidak aktif sama sekali.

Periode tidak aktif ini berlangsung lebih dari 100.000 tahun, namun bukti kimia menunjukkan bahwa magma diproduksi dalam volume tinggi di bawah permukaan.

“Perekam Penerbangan” Geologi

Para peneliti mencapai terobosan ini dengan mempelajari kristal zirkon. Mineral kecil ini bertindak sebagai “perekam penerbangan” alami; mereka terbentuk di lingkungan magmatik dan menyimpan catatan yang tepat tentang kapan dan di mana mereka diciptakan.

Dengan menggunakan tingkat peluruhan radioaktif (seperti uranium) hingga saat ini pada lebih dari 1.250 kristal, tim merekonstruksi “kehidupan batin” gunung berapi dengan presisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menemukan bahwa puncak produksi magma di Methana sebenarnya bertepatan dengan periode keheningan permukaan yang paling lama.

Mengapa Gunung Berapi “Tertidur” Saat Magma Terbentuk?

Studi ini menjelaskan paradoks ini melalui mekanisme zona subduksi. Methana adalah bagian dari Busur Vulkanik Aegean Selatan, tempat satu lempeng tektonik meluncur di bawah lempeng lainnya.

  1. Bahan Bakar: Saat lempeng tersebut turun, ia membawa air laut dan sedimen dasar laut ke dalam interior bumi.
  2. Reaksinya: Air ini menghidrasi mantel, “meningkatkan” produksi magma.
  3. The Stall: Paradoksnya, air ini juga menyebabkan kristalisasi di dalam magma, membuatnya lebih kental dan kental.

Magma “basah” yang menebal ini bergerak jauh lebih lambat dibandingkan batuan cair pada umumnya. Meskipun ia terus terakumulasi dalam jumlah besar jauh di bawah tanah, ia tidak memiliki mobilitas untuk menembus permukaan, sehingga menyebabkan ketenangan yang menipu selama berabad-abad atau bahkan ribuan tahun.

Implikasi terhadap Bahaya Gunung Berapi Global

Penemuan ini penting karena prakiraan bahaya gunung berapi saat ini sering kali mengandalkan aturan praktis yang disederhanakan: jika gunung berapi tidak meletus dalam waktu sekitar 10.000 tahun, maka gunung tersebut dapat dianggap punah.

Data Methana membuktikan bahwa timeline ini tidak dapat diandalkan. Gunung berapi dapat “bernafas” dan menghasilkan tekanan lebih lama dari perkiraan sebelumnya tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan di permukaan. Hal ini menimbulkan risiko tinggi bagi pemukiman manusia, karena letusan tiba-tiba dari gunung berapi yang dianggap “punah” dapat menyebabkan masyarakat tidak siap sama sekali.

“Kami sebenarnya percaya bahwa banyak gunung berapi di zona subduksi mungkin secara periodik dialiri oleh magma primitif basah, sesuatu yang belum sepenuhnya diakui oleh komunitas ilmiah.”
Răzvan-Gabriel Popa, ETH Zurich

Seruan untuk Kewaspadaan

Para peneliti menyarankan komunitas ilmiah harus menjauhi asumsi bahwa dormansi sama dengan keamanan. Untuk mencegah bencana di masa depan, mereka merekomendasikan agar otoritas bahaya global meningkatkan pemantauan terhadap gunung berapi yang tidak aktif dengan melacak:
Emisi gas
Deformasi tanah
Gempa gunung berapi-tektonik
Anomali gravitasi

Kesimpulan: Dengan membuktikan bahwa magma dapat terakumulasi secara diam-diam selama ribuan tahun, penelitian ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk menilai kembali status gunung berapi yang “punah” dan menerapkan pemantauan yang lebih ketat terhadap situs gunung berapi yang telah lama tidak aktif.