Jenius Tragis Hideyo Noguchi: Dari Sifilis hingga Demam Kuning

3

Hideyo Noguchi adalah seorang ahli bakteriologi yang mengubah cara kita memahami penyakit menular. Kisahnya bukan hanya tentang penemuan. Ini tentang biaya ilmu pengetahuan. Lahir di Inawashiro, Jepang, pada tanggal 24 November 1876, ia menjadi salah satu ilmuwan Jepang terkemuka di Amerika Serikat. Dia meninggal di Accra, Ghana, pada tanggal 21 Mei 1928. Dia baru berusia 51 tahun.

Ia terkenal karena membuktikan bahwa sifilis mempengaruhi otak. Pada tahun 1913, ia mengidentifikasi Treponema pallidum di otak orang yang menderita paresis umum. Ini merupakan lompatan besar. Sebelumnya, hubungan antara bakteri dan penurunan neurologis masih bersifat teoritis. Dia menunjukkan bahwa itu nyata.

Karyanya melampaui sifilis. Ia membuktikan bahwa demam Oroya dan verruga peruana disebabkan oleh Bartonella bacilliformis. Kedua kondisi ini dulunya dipandang sebagai penyakit yang terpisah. Noguchi menunjukkan bahwa itu adalah fase yang berbeda dari apa yang sekarang kita sebut penyakit Carrion, atau bartonellosis. Hal ini membantu dokter mendiagnosis pasien di Amerika Selatan dengan lebih akurat.

Karir Awal dan Pelatihan Amerika

Noguchi lulus dari sekolah kedokteran di Tokyo pada tahun 1897. Ia tidak berhenti di situ. Pada tahun 1900, dia pindah ke Philadelphia. Dia bergabung dengan Universitas Pennsylvania. Di sana, dia bekerja di bawah bimbingan Simon Flexner. Fokusnya adalah bisa ular. Pekerjaan ini melatihnya dalam metode laboratorium yang ketat.

Pada tahun 1904, dia pindah ke Institut Penelitian Medis Rockefeller di New York City. Sponsor ini akan berlangsung selama hampir dua puluh lima tahun. Ini memberikan stabilitas yang dibutuhkan untuk penelitian mendalam.

Di Rockefeller, dia menemukan cara baru untuk menumbuhkan mikroorganisme. Kebanyakan bakteri pada masa itu tidak dapat dibiakkan dalam tabung reaksi. Dia menemukan metode yang berhasil. Hal ini membuka pintu untuk mempelajari patogen yang sulit.

Hidup yang Terpotong karena Penyakit

Penelitiannya sangat luas. Dia mempelajari poliomielitis. Dia melihat trachoma. Dia sedang mengerjakan vaksin untuk demam kuning. Ia juga mengembangkan serum untuk penyakit yang sama.

Mengapa hal ini menjadi penting saat ini? Karena dia berusaha menghentikan wabah. Demam kuning menewaskan ribuan orang. Serumnya menawarkan harapan. Ini mengurangi angka kematian dalam beberapa uji coba. Namun dia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Pada tahun 1928, ia melakukan perjalanan ke Afrika untuk penelitian tentang demam kuning. Dia tertular penyakit itu. Dia meninggal di Accra, yang saat itu merupakan bagian dari koloni Gold Coast. Dia meninggal saat melakukan pekerjaan yang dia sukai.

Warisan dalam Pengobatan Modern

Hari ini kita mengingat inovasi teknisnya. Ia membuktikan bahwa penyakit kompleks memiliki penyebab bakteri tertentu. Ia menunjukkan bahwa gejala yang tampaknya tidak berhubungan bisa menjadi bagian dari satu penyakit.

Karyanya tentang sifilis meletakkan dasar bagi pengobatan neurosifilis. Pengetahuannya tentang bartonellosis membantu para dokter di Peru dan Ekuador. Ia menunjukkan bahwa mikrobiologi bukan hanya tentang isolasi. Ini tentang koneksi.

Dia meninggal muda. Namun metodenya terus berlanjut. Peneliti lain menggunakan teknik budidayanya. Mereka mengembangkan temuannya. Institut Rockefeller melanjutkan misinya. Begitu pula dengan bidang bakteriologi.

Kita sering melihat kehidupannya sebagai sebuah tragedi. Dia. Tapi itu juga merupakan bukti rasa ingin tahu. Dia mengajukan pertanyaan kepada orang lain