Fisikawan baru saja menjatuhkan bom. Angka imajiner? Mungkin tidak perlu.
Para peneliti dari Heinrich Heine University Düsseldorf dan German Aerospace Center meninjau kembali matematika yang mendasari kenyataan. Temuan mereka menunjukkan bahwa kita sebenarnya tidak memerlukan bilangan kompleks untuk menggambarkan dunia kuantum. Hanya bilangan real. Nomor-nomor lama yang biasa.
Mekanika kuantum tidak menuntut sumbu imajiner berfungsi.
Ini kembali ke hal-hal aneh. Atom dan partikel melakukan hal-hal yang bertentangan dengan akal sehat. Mereka bertindak seperti gelombang. Mereka menerobos penghalang. Mereka terhubung melintasi jarak. Para pendirinya—Planck, Bohr, Heisenberg, Schrödinger—membangun kerangka kerja untuk menjelaskan semuanya. Dan kerangka itu berhasil. Cemerlang.
Tapi itu bergantung pada bilangan kompleks.
Bagian nyata ditambah bagian imajiner. Struktur ini menangani amplitudo dan fase. Ini menghitung bagaimana sistem berkembang. Ini memberi tahu kita apa yang mungkin kita lihat dalam sebuah eksperimen. Untuk waktu yang lama, matematika ini terasa sangat diperlukan.
Atau begitulah yang kami pikirkan.
Masalah Postulat
Perdebatan ini sudah lama. Apakah bilangan kompleks merupakan ciri dasar alam? Atau apakah itu hanya alat yang mudah digunakan untuk menghitung?
Sebuah studi pada tahun 2021 mengatakan bahwa hal tersebut sangat mendasar. Eksperimen mendukungnya. Kasus ditutup. Atau benarkah?
Dagmar Bruß dan Pedro Barrios Hita melihat lebih dekat. Khususnya pada postulat yang menjelaskan sistem gabungan. Model lama menggunakan postulat khusus tentang bagaimana sistem bersatu. Itu sangat membatasi. Terlalu membatasi, menurut mereka.
Dengan menukar postulat tersebut dengan postulat yang lebih bermotivasi fisik, keseluruhan lanskap akan berubah. Mereka menemukan kelas teori yang hanya menggunakan bilangan real. Bilangan real saja.
Dan inilah penendangnya.
Anda tidak bisa membedakannya. Eksperimen akan menghasilkan hasil yang sama persis. Prediksinya identik.
Bruß menyatakannya secara sederhana: “Dalam kerangka ini, bilangan imajiner … pada dasarnya tidak diperlukan.”
Jadi mengapa menggunakannya? Tradisi. Kenyamanan. Kebiasaan?
Siapa tahu.
Makalah baru, yang diterbitkan dalam Physical Review Letters, membiarkan pintunya terbuka. Mungkin kita menghilangkan bagian imajinernya dan mempertahankan fisikanya. Mungkin perhitungannya hanya menyederhanakan.
Atau mungkin itu semua hanyalah topi yang berbeda untuk kepala yang sama. 🎩
Pekerjaan itu berdiri. Referensinya kuat (Hita, Trushechkin, dkk., 18 Juni 2026).
Apakah kita beralih kembali ke bilangan real adalah sebuah pilihan sekarang. Bukan hukum alam.




























